Saturday, July 12, 2014

Cerita Reporter Tv

 Korea Utara : Sama Rata Sama Rasa





Perjalanan yang menarik dan mengesankan. Itulah yang terkesan oleh saya ketika memasuki salah satu negara paling misterius di dunia, Korea Utara.

Satu-satunya akses menuju Korea Utara bagi orang asing termasuk saya adalah melalui Beijing Tiongkok. Ada penerbangan langsung Beijing ke ibukota Korea Utara, Pyongyang setiap hari. Hanya dua maskapai itu saja yang biasa beroperasi, yaitu maskapai Tiongkok, Air China dan maskapai Korea Utara Koryo airlines.
Setiap hari hanya satu penerbangan.

Karena tujuan ke Pyongyang adalah hal tak lazim bagi wisatawan, keberangkatan saya menuju korut tentu kerap kali akan dipertanyakan mengenai kelengkapan surat-menyurat dan visa. Beberapa kali saya harus berhadapan dan ditanyakan secara detail kelengkapan saya, tujuan saya, apa yang saya bawa dan mau apa.

Ada informasi lain bahwa selain Beijing, kita juga bisa menggunakan kereta api dari Beijing ataupun pesawat lewat Shenyang, salah satu kota di Tiongkok yang dekat dengan Pyongyang.

Perjalanan udara Beijing-Pyongyang memakan waktu satu jam 20 menit. Tidak terasa memang, namun perasaan deg-degan bercampur penasaran menyelimuti saya sepanjang perjalanan. Informasi seperti apa Korea Utara, bagaimana kehidupan masyarakat di sana, ibarat dongeng-dongeng yang diceritakan dari mulut ke mulut, tidak pernah ada patokan jelas kebenarannya. Apakah benar seperti pemberitaan dunia barat tentang korea atau tidak, saya akan mengajak anda melihat seperti apa isi Korea Utara.







 Jalan-Jalan di Kota Pyongyang

Secara pribadi saya itu penasaran dengan Koryo airline, maskapai asli Korea Utara yang disebut dunia barat sebagai maskapai terburuk dunia, jadi ketika saya mendarat di Pyongyang, saya langsung mencari-cari seperti apa rupa dari maskapai itu. Tentu saya tidak akan bisa mengkadar baik buruk atau bagus jeleknya karena saya hanya bisa melihat dari kejauhan.

Segala aktifitas saya, apalagi dengan status wartawan dan membawa kamera besar, sudah pasti ruang gerak dan apa yang saya rekam sangat dibatasi. Saya tidak bisa menampilkan kepada anda, tetapi ada dua orang yang menajdi semacam pengawal saya kemana pun saya pergi. Mereka seperti pelindung, pengawas dan pengingat saya, tentang apa-apa yang boleh direkam dan tidak. Menarik sih he2

Dari bandara menuju kota, kira-kira memakan waktu 30 menit perjalanan. Kendaraan berjalan di jalur kanan, sama seperti korea selatan, hal yang awalnya saya pikir Korea Utara utara tidak akan mau tampak serupa dengan selatan. Hanya satu dua kendaraan yang lalu lalang, kiri kanan jalan cukup banyak warga yang berjalan kaki, dan dominasi suasana pertanian dan perkebunan rakyat yang menyapa saya.


Pemandangan kota pongyang jauh dari seperti yang saya pikirkan. Kota berkembang dengan caranya sendiri dan bersinergi dengan keterbatasan yang mereka harus hadapi.

Gedung-gedung yang menjulang di sini seluruhnya milik pemerintah. Bangunan-bangunan klasik dengan tata kota rapi, para pengemudi disiplin, pedestrian yang nyaman bagi pejalan kaki serta kebersihan yang di jaga rapi.

Terlepas dari konteks apakah ini pencitraan pemerintah korut sehingga terlihat sangat rapi, namun saya benar-benar mengalami dan melihat langsung bahwa pembangunan kota Pyongyang memang terstruktur.

Korea Utara adalah negara yang sampai kini menutup diri dari hal-hal yang berbau internasional. Siaran televisi selain milik pemerintah dilarang, apalagi internet, tidak bisa diakses secara bebas oleh warga dan wisatawan.



Militer adalah prioritas negara ini. Mereka menyebutnya dengan songun. Yaitu militer di atas segala-galanya. Alokasi anggaran negara sudah pasti mengalir ke militer terlebih dahulu, cara pandang dan birokrasi sudah pasti sesuai dengan komando dalam militer. Negara ini memiliki personil tentara aktif terbesar di dunia yaitu mencapai angka sembilan juta lima ratus orang. Tidak heran jika banyak sekali tentara berseliweran di mana-mana, dan perspektif warga sekitar pun memandang militer sebagai profesi yang membanggakan sekaligus dapat menyokong hidup. Layaknya PNS di Indonesia, banyak putra-putri Korea Utara memilih masuk militer selepas jenjang SMA ataupun kuliah.

Pemerintah Korea Utara meyakinkan negaranya bahwa mereka dapat berdiri sendiri secara mandiri. Sejak Korea Utara menyatakan akan mengembangkan senjata nuklir, negeri ini tertimpa banyaknya sanksi ekonomi dari negara-negara barat dan dikucilkan dari pergaualan internasional, membuat Korea Utara harus berjuang lebih keras dalam menjalani pemerintahan.


Entah settingan atau tidak, warga yang berbondong-bondong di situs-situs sejarah, selalu saya dapat temui. Menurut mereka, ini adalah bentuk penghargaan terhadap negara mereka, terutama kepada pemimpin besar, Kim-il sung dan anaknya Kim jong il. Yang mereka anggap sebagai pembawa kemenangan dan kebanggaan rakyat korea sejati. Keduanya dikultuskan menjadi sosok penghidupan bagi semua rakyat korea. Sehingga dimana pun patung ataupun foto mereka, bisa anda temui dengan jargon-jargon kemajuan kemandirian bangsa Korea Utara.

Di situs ini semua alat, tank, atau pesawat yang ditampilkan adalah asli miliki amerika serikat yang berhasil mereka rebut saat jaman perang korea. Di tata sedemikian rupa sehingga anak cucu bangsa bisa menyaksikan kegagahan militer negara mereka yang berjuang melawan imperialisme barat, kekuatan asing yang mereka kenang sebagai pemecah korea.

Hingga kini Korea Utara meyakini suatu saat kedua korea akan reunifikasi atau kembali menjadi satu korea.




Ada satu bangungan yang disebut istana matahari kumsusan. Bangunan ini menyimpan jasad kedua pemimpin Korea Utara, kim il sung dan kim jong il yang diawetkan. Sehingga kita bisa melihat tubuh asli keduanya yang diistirahatkan, di dalam peti khusus. Saya tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar di sini. Jangan kan kamera, benda-benda metal seperti pulpen bahkan ketika saya masuk, permen milik pengunjung lain pun tidak diperkenankan dibawa masuk.



Dari kumsusan, kali ini saya ke juche idea tower. Terletak di seberang sungai dari lokasi lapangan kim il sung, tempat pertama saya mengajak anda. Saya ingin melihat kota Pyongyang dari view yang lebih tinggi, sekaligus menilik sejarah dari bangunan yang menjadi monumen tertinggi kedua di dunia ini.

Juche idea tower atau monumen ideologi juche, sebenarnya dibangun sebagai hadiah ulang tahun untuk pemimpin negara mereka kim il sung yang ke 70 tahun. Menjulang setinggi 170 meter dengan susunan 25 ribu 550 blok granit, yang disesuaikan dengan jumlah hari kim il sung hidup dalam 70 tahun.
Juche sendiri adalah ideologi Korea Utara yang resmi dipakai sejak 2009 menggantikan paham komunisme. Sehingga tegaknya menara juche, berarti kuatnya simbol manusia sebagai kekuatan utama dalam kehidupan, dengan hidup mandiri dan berjuang sendiri.



Hampir mirip dengan monas di jakarta, ada sebuah lift yang bisa digunakan untuk mencapai obervatory diatasnya. Dari atas menara juche, saya dapat melihat seluruh penjuru kota Pyongyang. Susunan rapi gedung-gedung tinggi yang rapi dengan panorama sungai dan aktifitas kendaraan militer yang terlihat kecil dari kejauhan.

Ini merupakan moment yang unik bagi saya. Bisa berada di Korea Utara, tempat yang selalu misterius bagi saya, namun saya kini bisa menjangkau detail gambaran dari ujung mata saya dari atas menara juche dan melihat tentang seperti apa kota Pyongyang.

Berbicara seputar Korea Utara, nama indonesia ternyata sangat familiar bagi mereka. Persahabatan kim il sung dengan presiden Soekarno, terabadikan melalui bunga anggrek indonesia.
Pada masa presiden soekarno, secara pribadi  Seokarno memberikan kado spesial kepada kim il sung, bunga yang diberi nama kimilsungia, sebagai kedekatan indonesia dengan Korea Utara.

Korea Utara pun kemudian menjadikan bunga kimilsungia ini sebagai bunga nasional, kebanggaan mereka. Mumpung saya sedang berada di Pyongyang, saya pun tertarik untuk melihat museum kimilsungia, semacam pembudidayaan anggrek indonesia yang mampu mekar sepanjang tahun.

Seindah bunga kimilsungia, nama indonesia begitu semerbak menjadi teman sejati Korea Utara. Sayang agak sulit untuk mewancarai orang di sini. Jangankan pejabat, warga biasa pun enggan untuk muncul di sebuah media. Sehingga saya tidak bisa menunjukkan kepada anda, betapa mereka mengenal indonesia. Tidak jarang mereka bisa menyebut terima kasih ataupun Soekarno, ketika saya memperkenalkan diri sebagai orang indonesia.





 Apakah Warga Korea Utara Bahagia?


Saya menuju ke sekolah musik Pyongyang. Sekolah gratis untuk siswa SD. Saya ingin meilihat lebih dekat tentang pendidikan gratis di Korea Utara. Saya memilih untuk menggunakan subway menuju ke sana. Memang agak kaget bagi saya ketika mendengar Pyongyang memiliki subway, ternyata memang benar. Sebuah sistem trasnportasi yang dibangun pada tahun 80 an dan masih terawat sampai sekarang. Siapa yang sangka, kota seperti Pyongyang saja begitu memperhatikan masalah transportasi publik. Apa kabar ne jakarta. He2

Tidak memakan waktu lama, saya akhirnya sampai di sekolah musik Pyongyang. Apa yang membuat saya tertarik ke sini karena rasa penasaran saya mengenai sistem pendidikan Korea Utara. Dari kecil, anak-anak sudah diwajibkan sekolah, kemudian wajib menguasai dua alat musik serta wajib memiliki ketrampilan atau seni lainnya. Istilah wajib disini artinya super-super harus bisa. Tidak boleh tidak. Tidak ada tawar menawar jika pemerintha mengatakan wajib. Sehingga setelah pulang sekolah, mereka akan belajar di sini sesuai dengan minat murid masing-masing. Tujuan dari diwajibkannya anak-anak untuk sekolah dan memiliki ketrampilan khusus, ini semua adalah repleksi dari ideologi yang sebelumnya saya sebutkan, yaitu juche idea.

Dalam ideologi Korea Utara, manusia adalah sumber kekuatan. Manusia adalah penggerak bangsa dan manusia adalah perubah dunia. Sehingga setiap warga korea adalah wajib hukumnya untuk bisa membaca, berketrampilan dan berbahasa asing. Dan pemerintah menyediakan wadah seluas-luasnya untuk belajar secara gratis.Saya masuk dari satu kelas ke kelas lainnya. Saya terpukau dengan kemahiran mereka memainkan alat musik di usia yang sangat dini, ditambah, juga harus bisa memainkan mimik wajah riang

Di luar konteks pemaksaan dari sistem Korea Utara, penerapan seperti ini sungguh positif terhadap anak-anak. Setiap hari mereka sudah sangat sibuk belajar di pagi hari, sore belajar ketrampilan dan seni, dan malam berkumpul bersama keluarga. Tidak ada istilah anak-anak menonton televisi ataupun keranjingan permainan video games.

Sekolah seperti tidak hanya untuk sekedar belajar dan kemudian mahir, keahlian mereka pun ditampilkan dalam auditorium besar, yang terbuka untuk pengunjung, termasuk untuk wisatawan asing.


Jerih payah mereka berlatih setiap hari memiliki wadah untuk pertujunjukkan, sehingga anak-anak ini pun memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan tentang prestasi. Ketrampilan mereka ditunjang dengan dengan tata panggung, cahaya dan kemasan show yang memukau. Saya seperti melihat pertunjukkan musisi dewasa, dengan kualitas kelas dunia. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana bangganya orang tua mereka melihat anak-anaknya tampil. Dan kalau di Pyongyang, ternyata mereka ini cukup terkenal loh. Artis-artis cilik yang menjadi idola karena ketrampilan mereka, bukan karena wajah mereka.

Dari sekolah anak-anak saya pindah ke perpustakaan nasional. Kalau di Pyongyang, perpustakaan berperan seperti universitas. Para pelajar dan mahasiswa ataupun warga biasa, bisa mengakses buku-buku di sini, dengan bantuan sekitar 25s0 dosen pembimbing. Dosen pembimbing disini bertugas untuk menjelaskan tentang suatu materi yang ingin ditanyakan. Seperti google lah, semua orang bisa mendatangi dosen dan bertanya apa saja.

Perpustakaan nasional ini terdiri dari 8 lantai, memiliki 3 juta koleksi buku, 60 tempat duduk dan memiliki delapan kelas bahasa yang terbuka untuk umum di sore hari. Saat berkunjung ke sini, saya diajak masuk ke kelas bahasa inggris. Pemandangan umum seperti kelas inggris pada umumnya, dengan jumlah murid yang cukup banyak di kelas ini. Mereka adalah warga Pyongyang dari segala golongan, yang di dominasi pekerja. Sehingga setelah bekerja, mereka datang ke sini untuk mbelajar bahasa inggtis. Dan tentu saja gratis . Ternyata sang guru meminta saya maju ke depan kelas dan memperkenalkan diri dalam bahasa inggris.

Tentu saja moment ini tidak saya sia-siakan. Saya ingin tahu apakah mereka mengenal indonesia.

Sungguh pegalaman tak terlupakan bagi saya. Berinteraksi dengan mahasiswa lokal dalam bahasa inggris. Saya tidak melihat seberapa bagus dan lancar mereka berbahasa inggris. Namun saya salut kemauan besar mereka untuk belajar bahasa asing, ditengah-tengah kesibukan mereka sebagai buruh dan pekerja. Semangat belajar dengan memanfaatkan peluang yang ada.




Kita pindah ke sektor lainnya, kesehatan. Selain pendidikan, hal yang menarik perhatian saya adalah tentang pelayanan kesehatan gratis di negeri ini. Siapa sangka, negeri yang bisa dikatakan tidak makmur dan hidup ditengah pengucilan dan sanksi dunia, namun menggratiskan pelayanan kesehatan warganya.

Lagi-lagi dasar pemikirannya adalah ke sistem ideologi juche mereka. Manusia adalah sumber kekuatan. Bagaimana negara bisa maju dan mandiri jika warganya lemah dan sakit.  Simple saja.

Saya pengunjungi rumah sakit untuk penanganan kanker dan persalinan di kota Pyongyang. Bangunan ini masih terbilang baru. Pengembangan dari rumah sakit bersalin yang membutuhkan ruangan yang lebih banyak.

Jika anda sakit, anda cukup datang saja. Kemudian rumah sakit akan mendata anda sesuai dengan nama jalan tempat tinggal anda. Dari situ anda akan dibawa ruang pemeriksaan dan dilanjutkan ke apotik. Jika perlu diinapkan, maka anda tinggal menginap. Jika anda membutuhkan operasi, anda pun dapat segera mengikuti prosedur operasi. Semua ditanggung pemerintah. Tidak ada istilah menunggu antrian yang lama atau waktu operasi, tinggal datang dan diperiksa.

Hal ini juga berlaku untuk CT scan, cek darah serta persalinan. Konsep yang menurut saya sangat tidak masuk akal diterapkan di jaman sekarang. Saya membayangkan jika saya tidak punya uang dan tidak bekerja di indonesia dan tidak memiliki asuransi, kalau saya sakit, entah apa yang akan terjadi dengan saya.


Sayang sekali saya tidak bisa mengajak anda satu lagi faktor vital kehidupan yang digratiskan negara, yaitu apartemen. Karena rumah di Pyongyang semuanya dalam berbentuk apartemen dan dimiliki negara. Peraturan di sini orang asing tidak diperbolehkan masuk ke rumah warga lokal. Entah apa alasannya ya saya tidak bisa memaksakan untuk itu.

Informasi yang saya dapatkan, semua earga di Pyongyang mendapatkan rumah gratis. Pemerintah akanmemanggil warga bersama keluarganya, dan memberikan jatah satu flat atau satu apartemen untuk mereka. Listrik dan air pun sudah termasuk tanggungan pemerintah.

Sekali lagi saya terpukau dengan konsep hidup di Korea Utara.
Rumah, pendidikan dan kesehatan gratis.

Bukan negeri seram seperti kebanyakan barat bercerita namun tirai besi yang membelenggu negeri ini, tersingkap pemerintahan yang memerhatikan kehidupan warganya.






Inilah cerita di balik layar saya dalam perjalanan meliput di Korea Utara. Untuk versi liputan nya bisa lihat tayangannya di link ini --> http://video.metrotvnews.com/detail/2013/12/20/21064/korea-utara-sama-rata-sama-rata